Viral di TikTok: Dokter Bicara Fakta di Balik Diet 'Puasa Semalam', Efektif atau Berbahaya?

Oct 30, 2025 - 05:32
 0  40
Viral di TikTok: Dokter Bicara Fakta di Balik Diet 'Puasa Semalam', Efektif atau Berbahaya?

Viral di TikTok: Dokter Bicara Fakta di Balik Diet 'Puasa Semalam', Efektif atau Berbahaya?

Fenomena “Puasa Semalam” yang Menghebohkan Dunia Maya

Belakangan ini, TikTok kembali menjadi sorotan publik setelah muncul tren baru bertajuk diet puasa semalam. Ribuan pengguna membagikan video transformasi tubuh mereka dengan klaim mampu menurunkan berat badan secara cepat hanya dengan “tidak makan setelah jam 6 sore hingga pagi berikutnya”. Tren ini menarik perhatian jutaan penonton dan menciptakan gelombang tantangan viral bertajuk “Overnight Fasting Challenge”. Namun di balik euforia tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah metode ini benar-benar efektif, atau justru berisiko bagi kesehatan?

Apa Itu Diet Puasa Semalam?

Diet puasa semalam secara sederhana berarti membatasi waktu makan selama periode tertentu, biasanya antara 12 hingga 14 jam tanpa asupan makanan. Contohnya, seseorang makan terakhir pukul 7 malam dan baru sarapan kembali pukul 9 pagi. Metode ini sering dikaitkan dengan konsep intermittent fasting atau puasa berselang yang populer di dunia kebugaran. Namun berbeda dari protokol medis yang memiliki dasar penelitian, tren TikTok ini sering kali hanya menekankan aspek visual yaitu tubuh langsing instan tanpa memperhatikan konteks fisiologis dan kebutuhan individu.

Dokter Bicara: Antara Manfaat dan Bahaya

Menurut dr. Rani Widjaja, seorang dokter gizi klinis di Jakarta, tren puasa semalam memang dapat memberikan manfaat metabolik dalam jangka pendek. Tubuh memiliki kesempatan untuk memulihkan sistem pencernaan, menurunkan kadar insulin, dan mengoptimalkan proses pembakaran lemak. Namun, dr. Rani menegaskan bahwa manfaat ini hanya muncul bila dilakukan dengan cara yang benar. “Masalahnya, kebanyakan orang di TikTok melakukannya ekstrem menahan lapar berlebihan tanpa memperhatikan kebutuhan cairan dan nutrisi penting,” ujarnya.

Ia menambahkan, bagi sebagian orang dengan kondisi tertentu seperti penderita asam lambung, hipoglikemia, atau gangguan makan, metode ini justru dapat memperburuk kondisi kesehatan. “Puasa yang dilakukan tanpa panduan bisa menimbulkan efek rebound. Saat jam makan tiba, tubuh malah membalas dengan makan berlebihan,” jelasnya.

Efek Samping yang Jarang Dibahas di Media Sosial

Tren diet viral seperti ini sering kali menonjolkan hasil luar biasa dalam waktu singkat, namun mengabaikan sisi medis yang kompleks. Dalam banyak kasus, orang mengalami efek samping seperti:

1. Penurunan metabolisme basal Tubuh menjadi lebih hemat energi, sehingga penurunan berat badan bisa berhenti di tengah jalan. 2. Gangguan hormon stres  Kortisol meningkat, memicu rasa cemas, sulit tidur, dan lapar berlebih di malam hari. 3. Kekurangan nutrisi Puasa terlalu lama tanpa perencanaan menyebabkan tubuh kekurangan protein, vitamin, dan elektrolit. 4. Disfungsi pencernaan Asam lambung naik, perut kembung, dan sistem cerna terganggu.

Hal-hal seperti ini tidak pernah viral di media sosial, karena tidak menampilkan hasil yang “estetis”. Padahal, menurut para ahli, risiko tersebut jauh lebih penting untuk diperhatikan dibandingkan sekadar penurunan angka di timbangan.

Algoritma TikTok dan Gaya Hidup Instan

Fenomena viral TikTok sering kali mendorong perilaku impulsif. Algoritma platform tersebut dirancang untuk mempromosikan konten visual yang memancing rasa ingin tahu dan emosi kuat. Video transformasi tubuh, misalnya, mendapatkan jutaan tayangan karena menyentuh sisi psikologis audiens yang ingin melihat hasil cepat tanpa usaha panjang.

“Tren seperti ini bisa menjadi pisau bermata dua,” kata psikolog kesehatan, dr. Aldo Nugroho, M.Psi. “Di satu sisi, ia mendorong orang lebih sadar terhadap pola makan. Tapi di sisi lain, ia menanamkan ekspektasi tak realistis dan menormalisasi kelaparan ekstrem sebagai bentuk kedisiplinan.” Menurutnya, efek sosial dari diet puasa semalam bahkan lebih berbahaya daripada dampak medis, karena membentuk budaya “diet cepat” tanpa edukasi.

Fakta Ilmiah: Apakah Benar Bisa Menurunkan Berat Badan?

Sebuah studi dari Harvard Medical School menemukan bahwa membatasi waktu makan memang dapat membantu mengatur kadar insulin dan meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap gula darah. Namun, penurunan berat badan yang signifikan baru terjadi bila digabungkan dengan defisit kalori dan aktivitas fisik teratur. Artinya, puasa semalam tanpa mengatur porsi makan tetap tidak akan memberikan hasil jangka panjang.

Dr. Rani juga menegaskan bahwa tubuh manusia memiliki kemampuan adaptasi luar biasa. “Setelah beberapa minggu, metabolisme menyesuaikan diri. Jadi, kalau Anda hanya mengandalkan puasa tanpa pola makan sehat, efeknya bisa berhenti begitu saja,” ujarnya.

Bagaimana Cara Aman Melakukan Puasa Semalam?

Bagi Anda yang tertarik mencoba, para ahli menyarankan mengikuti langkah aman berikut:

1. Tentukan jadwal realistis — Misalnya, puasa 12 jam dari jam 8 malam hingga 8 pagi. 2. Pastikan asupan cairan cukup — Air putih tetap boleh dikonsumsi selama puasa. 3. Konsumsi makanan bergizi seimbang — Fokus pada protein, serat, dan lemak sehat. 4. Hindari makan berlebihan setelah puasa — Jangan jadikan jam buka puasa sebagai ajang “balas dendam” makan. 5. Konsultasikan dengan dokter — Terutama bila memiliki riwayat penyakit tertentu.

Dengan langkah ini, diet puasa semalam bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat, bukan sekadar tren sesaat.

Antara Tren, Sains, dan Kesehatan

Tren viral TikTok tentang diet puasa semalam mencerminkan keinginan masyarakat modern untuk mencari solusi cepat dalam dunia penuh tekanan visual dan ekspektasi sosial. Meski beberapa manfaatnya didukung penelitian, bahaya yang menyertainya tidak boleh diabaikan. Seperti kata pepatah lama, “Yang cepat belum tentu tepat.”

Bagi para dokter dan ahli gizi, viralitas tren ini menjadi peluang sekaligus tantangan — bagaimana cara mengedukasi publik agar tidak hanya mengejar hasil instan, tetapi memahami tubuhnya sendiri. Sementara itu, bagi para pengguna media sosial, penting untuk menyadari bahwa setiap tubuh berbeda. Apa yang berhasil untuk satu orang di TikTok, belum tentu aman untuk Anda.

Jadi, sebelum Anda mencoba tantangan “puasa semalam” demi konten viral, ingatlah: tubuh Anda bukan eksperimen untuk algoritma.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow