Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nur Hikmah Green Bulurokeng Residence (GBR)”

Oct 12, 2025 - 10:26
Oct 12, 2025 - 10:28
 0  25
Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nur Hikmah Green Bulurokeng Residence (GBR)”
Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nur Hikmah Green Bulurokeng Residence (GBR)”

Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nur Hikmah Green Bulurokeng Residence

Udara sore di kawasan Green Bulurokeng Residence (GBR) terasa berbeda pada hari itu. Cahaya mentari yang mulai redup berpadu dengan suara lantunan shalawat dari pengeras suara Masjid Nur Hikmah. Warga komplek satu per satu berdatangan, mengenakan pakaian terbaik mereka, membawa anak-anak kecil yang riang menenteng bendera kecil bertuliskan lafadz “Muhammad”. Tidak ada suasana yang lebih damai selain momen perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, di mana cinta kepada Rasulullah kembali menghangat di dada setiap umat.

Masjid Nur Hikmah, yang biasanya ramai saat salat berjamaah, sore itu tampak lebih hidup dari biasanya. Panitia masjid telah menata karpet dengan rapi, menyiapkan hidangan khas Maulid seperti nasi kebuli, kue cucur, dan kolak pisang. Di sudut masjid, beberapa remaja tampak sibuk mengatur pengeras suara, memastikan acara akan berjalan lancar. Tidak sekadar seremonial, Maulid Nabi Muhammad SAW di GBR menjadi momentum mempererat ukhuwah dan meneladani akhlak mulia Rasul.

Namun, di balik suasana penuh berkah ini, banyak makna yang sering luput dari perhatian kita. Mengapa Maulid begitu penting untuk diperingati? Apakah cukup hanya dengan bershalawat dan makan bersama? Atau ada rahasia mendalam di balik setiap lantunan pujian kepada Nabi yang seharusnya menggugah hati dan memperbarui iman kita?

Makna Tersirat di Balik Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Bagi sebagian orang, Maulid Nabi hanyalah tradisi tahunan. Namun, di Masjid Nur Hikmah GBR, maknanya jauh lebih dalam. Ketua panitia, Ustaz Hamzah, menyampaikan dalam sambutannya bahwa Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi, tapi juga momen memperbarui kecintaan dan komitmen mengikuti sunnah beliau. “Kita memperingati bukan karena budaya, tapi karena cinta,” ujarnya disambut takbir jamaah.

Peringatan kali ini diisi dengan pembacaan maulid Ad-Diba’i, ceramah agama, dan tausiah bertema “Meneladani Akhlak Rasul di Era Digital.” Sang penceramah, Ustaz Ismail Usman, menyampaikan pesan mendalam: “Jika Rasulullah hidup di zaman ini, beliau akan mengajarkan bagaimana media sosial bisa jadi sarana dakwah, bukan tempat permusuhan.” Kata-kata ini membuat suasana hening; setiap hati seolah diingatkan bahwa cinta kepada Nabi bukan hanya lewat kata, tapi tindakan nyata.

Anak-anak pun ikut terlibat. Mereka membawakan shalawat bersama guru TPA, dengan suara polos tapi penuh semangat. Sorotan lampu di dalam masjid membuat wajah-wajah kecil itu berkilau simbol harapan akan generasi penerus yang tetap mencintai Rasulullah dan menjaga nilai-nilai Islam di tengah arus modernisasi.

Dari Masjid ke Masyarakat: Wujud Nyata Cinta Rasul di GBR

Salah satu hal menarik dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nur Hikmah adalah dampak sosial yang dihasilkannya. Seusai acara inti, panitia bersama jamaah melakukan kegiatan berbagi makanan kepada warga sekitar, termasuk petugas keamanan, pedagang kecil, dan tukang ojek di gerbang komplek. “Rasul mengajarkan kita untuk tidak tidur nyenyak jika tetangga masih lapar,” ujar Ketua RT, Pak Syarifuddin, yang memimpin pembagian makanan.

Kegiatan itu menumbuhkan rasa kebersamaan yang kuat. Bukan hanya antara penghuni komplek, tapi juga dengan masyarakat sekitar. Banyak warga yang sebelumnya jarang datang ke masjid kini mulai ikut kajian rutin. “Dulu saya malu ke masjid karena belum bisa baca Al-Qur’an. Tapi setelah Maulid tahun lalu, saya mulai belajar di kelas ibu-ibu,” kata Ibu Rina dengan mata berkaca-kaca.

Kisah seperti ini bukan satu dua. Maulid di GBR seolah menjadi energi baru yang menyatukan hati, menghapus jarak sosial, dan membangkitkan semangat gotong royong dalam bingkai dakwah yang lembut. Inilah bentuk cinta kepada Rasul yang sejati bukan sekadar seremonial, tapi nyata dalam perbuatan.

Menghidupkan Sunnah Rasul dalam Kehidupan Sehari-hari

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga menjadi pengingat akan pentingnya menghidupkan sunnah. Dari cara makan, berbicara, hingga menyebarkan kebaikan di dunia digital. Panitia masjid bahkan membuat kampanye “Senyum Itu Sedekah” di grup warga, mengajak semua anggota komplek untuk menebar kebaikan setiap hari.

Anak muda GBR pun ikut aktif. Mereka membuat konten dakwah pendek bertema “Cinta Rasul di Zaman Digital” yang diunggah ke media sosial masjid. Dengan bahasa yang ringan dan kreatif, mereka mengajak teman-teman sebaya untuk mengenal akhlak Nabi dengan cara modern. “Kita ingin Maulid bukan hanya di masjid, tapi juga hidup di timeline kita,” kata Dwi, ketua remaja masjid.

Semangat ini memperlihatkan bahwa cinta kepada Nabi bisa diterjemahkan dalam berbagai bentuk, sesuai zaman. Bukan hanya di mimbar, tapi juga di layar ponsel, di ruang kerja, di sekolah, dan di setiap interaksi manusia. Inilah bukti bahwa Maulid Nabi bukan sekadar acara, melainkan gerakan hati.

Menjadikan Maulid sebagai Momentum Transformasi Diri

Akhir dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nur Hikmah bukanlah penutup, tapi awal perjalanan spiritual baru. Jamaah pulang membawa lebih dari sekadar kenangan; mereka membawa tekad untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lembut, dan berakhlak seperti Rasulullah.

Ustaz Hamzah menutup acara dengan pesan sederhana tapi kuat: “Cinta kepada Rasul harus diwujudkan dalam amal. Jika setiap langkah kita meneladani beliau, maka sesungguhnya Maulid itu hidup setiap hari.” Kata-kata ini menggema di hati setiap jamaah menandai bahwa Maulid bukan hanya momen perayaan, tapi juga titik balik menuju kehidupan yang lebih bermakna. Dari masjid kecil di Green Bulurokeng Residence, semangat itu kini menyebar. Sebuah pesan abadi: bahwa mencintai Nabi bukan hanya dengan lisan, tapi dengan tindakan nyata dalam keseharian.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow